Jumat, 04 Januari 2013

Contoh Proposal Penelitian

PENGARUH KEMAMPUAN MENGAJAR GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI 5 KOLONO




PROPOSAL PENELITIAN


Ditulis Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Menempuh
Gelar Sarjana Pendidikan









PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI
2012






DAFTAR ISI


                                                                                                Halaman
HALAMAN JUDUL............................................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang .................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C.     Tujuan Penelitian ....................................................................... ....... 3
D.     Manfaat Penelitian ............................................................................. 4
E.      Hipotesis Penelitian ........................................................................... 4

BAB II. KAJIAN PUSTAKA 
A.     Pengertian Pendidikan ....................................................................... 5
B.     Tujuan Pendidikan  ............................................................................ 6
C.     Kemampuan Mengajar Guru ............................................................. 6
D.     Guru Sebagai Pendidik  ..................................................................... 14
E.      Peranan dan Kedudukan Guru dalam Proses Belajar Mengajar ........ 18
F.      Prestasi Belajar Siswa ........................................................................ 21
G.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa ............... 26

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 
A.     Tempat dan Waktu Penelitian  .......................................................... 29
B.     Populasi dan Sampel  ......................................................................... 29
C.     Jenis dan Sumber data  ...................................................................... 29
D.     Desain Penelitian ............................................................................... 30
E.      Definisi Operasional dan Variabel ..................................................... 30
F.      Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 30
G.     Teknik Analisis Data ......................................................................... 31



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Penegakan tata tertip diperlukan oleh para siswa secara keseluruhan dalam rangka penegakannya sekaligus mencegah pelanggaran yang akan dilakukan oleh siswa terhadap peraturan sekolah, perusakan fasilitas sekolah, pulang sebelum waktunya (bolos) dan kebiasaan mengganggu teman yang sedang belajar selama jam belajar sekolah berlangsung. Dengan demikian akan tercipta suatu keadaan yang harmonis dan dimanis dalam pelaksanaan kegiatan mengajar menuju tercapainya tujuan sekolah secara khusus yaitu peningkatan kualitas siswa, dan tujuan pendidikan secara umum yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman dan  bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian, berdisiplin, serta sehat jasmani dan rohani.
Proses penanganan kenakan remaja telah menjadi program pemerintah, karena masalah ini apabila tidak ditangani secara dini, akan berdampak negative terhadap anak yang bersangkutan di kemudian hari.
Bonger (1970:124-125) telah memberikan perhatiannya dengan mengemukakan bahwa kejahatan anak remaja dan pemudah sudah merupakan bagian yang terbesar dalam kejahatan. Lagi pula kebanyakan penjahat yang sudah dewasa umumnya sudah merosok kesusilaannya sejak kecil.
Berbagai masalah sosial akan mempengaruhi kenakalan remaja. Masalah yang terjadi dalam lingkungan keluarga, seperti keluarga broken home yang kadang-kadang menimbulkan penceraian yang akan menimbulkan kesan yang kurang perhatian orang tua terhadap perkembangan dan kebutuhan anak disebabkan kurangnya uluran kasih sayang yang didambakan sang anak. Kondisi ekonomi keluarga pun sangat menentukan . kekayaan yang berlebihan ditambah dengan memanjakan anak akan berakibat terhadap munculnya kesombongan (kebanggaan yang berlebihan) atau sebaliknya kondisi ekonomi yang buruk mendorong timbulnya frustasi, karena tidak terpenuhinya kebutuhan anak menurut perkembangan lingkungan.
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam hal munculnya kenakalan remaja. Teman-teman sebaya dengan mudah dapat mempengaruhi kelompoknya dalam melakukan hal-hal yang dikualifikasikan sebagai kenakalan.
Berdasarkan pola pikiran di atas, maka dalam menangani masalah kenakalan remaja, utamanya yang sedang dalam usia sekolah, perlu perhatian yang serius terutama dari guru bimbingan dan konseling (BK). Karena tanpa optimalisasi perhatian dari mereka, maka siswa yang akan dihasilkan nantinya akan mempunyai moral yang kurang baik dan akan menjadi generasi penerus yang menyandang masalah sosial.
SMP Negeri Satu Atap 1 Kabawo adalah salah satu sekolah negeri yang ada di kecamatan kabawo Kabupaten Muna, dimana sebahagiaan siswanya melakukan tindakan atau perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah yang dapat digolongkan dalam kenakalan remaja, seperti merokok dalam kelas, mengganggu ketenangan belajar siswa lainya, membuat keributan atau keonaran dalam lingkungan sekolah dan beberapa kenakalan remaja lainnya. 
Akhir-akhir ini pelanggaran atau perbuatan nakal siswa disekolah tersebut menunjukan gejalah serius. Berdasarkan catatan (dokumen sekolah) dari 278 siswa ada 151 siswa yang tergolong nakal yakni pembolos 52 orang siswa, merusak fasilitas sekolah 12 orang siswa, kurang mematuhi aturan sekolah 32 orang siswa, mengganggu ketenangan belajar 36, berkelahi 15 dan merokok 4 orang siswa laki-laki. Kondisi ini perlu mendapat perhatian yang serius oleh orang tua, sekolah maupun masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis merasa tertarik untuk meneliti :
Faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan Remaja dan usaha mengatasinya pada Siswa SMP Negeri Satu  atap 1 Kabawo Kabupaten Muna.

B. Batasan penelitian
Menyadari luasnya persoalan yang menyakut permasalahan factor yang mempengaruhi kenakalan remaja, maka masalah peneliti ini di batasi hanya pada :
1. factor-faktor menyebabkan kenakalan remaja
2. upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam menangani kenakalan remaja

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja pada siswa SMPN 1 Atap 1 Kabawo?
2. upaya-upayah apakah yang dilakukan oleh pihak sekolah SMP Negeri 1 Atap 1 Kabawo dalam hal menanggulangi kenakalan remaja/siswa selama tahun 2012/2013?

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. untuk mengetahui jenis-jenis kenakalan remaja yang dilakukan remaja pada siswa SMP    Negeri Satu Atap 1 Kabawo.
2. untuk mengetahui penyebab kenakalan remaja pada siswa SMP Negeri Satu Atap 1 Kabawo.
3. untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh pihak-pihak sekolah (SMP Negeri Satu Atap 1 Kabawo) dalam hal menanggulangi kenakalan remaja atau siswa.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh mempunyai manfaat sebagai berikut :
1. sebagi bahan informasi bagi para siswa, khususnya siswa SMP Negeri Satu atap 1 kabawo Kabupaten Muna , agar mereka dapat menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.
2. sebagai bahan masukan bagi orang tua, khususnya yang mempunyai anak remaja, dalam pembinaan anak-anak agar tidak terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan yang tidak baik.
3. sebagai bahan masukan bagi para pendidik, khususnya guru-guru di sekolah, dalam mendidik dan membina siswa-siswanya kea rah yang demokratis dan bermoral.
4. sebagai bahan rujukan untuk rekan-rekan guru BK dalam menilai masalah siswa dan langkah yang harus diambil dalam penyelesaian masalahnya; dan
5. sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang relefan dengan peneliti ini.   











BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian kenakalan
1. pengertian kenakalan
            Masalah kenakalan remaja  di Indonesia ternyata banyak menarik perhatian beberapa ahli ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan anak atau remaja.
Singgih (1995:15) menyatakan bahwa kenakalan merupakan tingkah laku anak yang menimbulkan persoalan bagi orang lain. Sedangkan menurut Sastrawijaya (1977:24) kenakalan diartikan sebagai kelainan tingkah laku, perbuatan atupun tindakan remaja yang bersifat asocial bahkan anti sosial yang melanggar norma-norma sosial, agama serta ketentuan hokum yang berlaku dalam masyarakat.
Juvenile delinquency  adalah perilaku jahat atau dursila, atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda ; merupakan segala sakit (patilogis) secara sosial pada anak-anak dan remaja disebabkan oleh satu bentuk pengabaiaan sosial, sehingga mereka itu menmgembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang (Kartono : 1992:7).
Menurut pohan (1986:3) kenakalan merupakan tingkah laku seseorang yang dapat menimbulkan persoalan bagi orang lain. Mungkin bagi orang tuanya, bagi guru atau bagi masyarakat di sekitarnya. Kenakalan terjadi sebagai refleksi dari adanya kepincangan atau ketidakseimbangan yang terdapat dalam masyarakat umumnya bersumber dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup dan kehidupan seseorang dalam keluarganya.
Jadi kenakalan adalah tingkah laku yang melanggar norma-norma dalam masyarakat yang menimbulkan persoalan bagi orang lain.

2. Pengertian Remaja dan Ciri-Cirinya
Fase remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting yang diawali dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi.
Syamsu dalam yusuf (2001:13) mengemukakan bahwa remaja merupakan masa perkembangan sifat tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arak kemandirian (independence) minat-minat seksual, perenungan diri dan isu-isu normal.
Dalam budaya amerika, periode remaja ini di pandang sebagai masa storm dan stress, frustasi dan penderitaan , konflik dan krisis penyesuaiaan, mimpi dan melamun tentang cinta, dan perasaan teralienasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial budaya orang dewasa (Yusuf, 2001:13).
 Piaget dalam Hurlock (1980;206) menyatakan masa remaja adalah usia dimana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya masalah hak.
Menurut Rahayu (2002:259) anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Tidak termaksud golangan anak, tetapi tidak pula termaksud golongan orang dewasa.
Samil (2000:5) mengatakan bahwa remaja adalah anak yang berusia 12-23 tahun di mana pada  masa ini anak akan mengalami peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa.
Secara psikologi batas usia remaja lebih banyak tergantung pada keadaan masyarakat di mana remaja itu hidup, yang dapat ditentukan dengan pasti adalah permulaanya, yaitu puber pertama atau mulainya perubahan jasmani dari anak menjadi dewasa kira-kira umur 12 tahun atau permulaan 13 tahun (Darajat, 1985:109). Akan tetapi akhirnya remaja itu didak sama. Pada masyarakat desa, setiap anak telah ikut bekerja ke sawah, ke lading, menangkap ikan dan sebagainya, si anak dapat cepat ikut dalam mencari kehidupan atau rejeki, keterampilan ilmu pengetahuan dan tidak merasa sukar untuk mencapainya, maka segera setelah pertumbuhan jasmaninya tampak sempurna, maka ia diberi kepercayaan dan tanggung jawab sebagai orang dewasa, dia telah dapat menikah dengan demikian masa remajanya berakhir, dan mungkin saja umurnya baru 15 atau 16 tahun. Pada masyarakat yang sedikit lebih maju, di mana perlu sedkit ilmu pengetahuan formil yang didapat di sekolah dan keterampilan social tertentu, maka umur tersebut di perpanjang sampai 18 tahun. Dalam masyarakat yang maju biasanya banyak persyaratan yang dipelukan agar seseorang dapat diterima sebagai orang dewasa yang mampu memberikan tanggung jawab. Untuk itu perlu perpanjang masa remaja sampai kira-kira umu 21 tahun. Pada umur tersebut, diperkirakan telah terjadi kematangan di segala segi.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut maka dikemukakan bahwa secara teoritis maupun secara empiris dar segi psokologi rentang usia remaja berada dalam usia 12 – 15 tahun yang dapat melanggar norma-norma social dalam masyarakat.
Menurut Hurlock (1980:208) seperti halnya dengan semua periode yang penting selama rentang kehidupan, masa remaja mempunyai cirri-ciri sebagai berikut adalah :
1.      Masa remaja sebagai periode yang penting.
2.      Masa remaja sebagi periode peralihan
3.      Masa remaja sebagai periode perubahan.
4.      Masa remaja sebagai usia bermasalah.
5.      Masa remaja sebagai masa mencari identitas.
6.      Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan.
7.      Masa remaja sebagai masa yang tidak realistic.
8.      Masa remaja sebagai ambang masa dewasa.
B. faktor-faktor penyebab kenakalan remaja
            Menurut gunarsah (1995:182 dan 189) timbulnya suatu masalah pada remaja sihingga memperlihatkan perilaku yang menyimpang, tidak selalu berupa rangkaian sebab-akibat yang bersifat monokausal, satu sebab menyababkan satu akibat, melainkan lebih luas dan lebih kompleks, bukan saja multikasal tetapi berantai (dari satu sebab timbul akibat dan sebaliknya akibat ini menjadi sebab yang baru) atau melingkar (dari satu sebab timbul akibat dan selanjutnya akibat ini berpengaruh terhadap sebab semula). Pada kasus-kasus tertentu karena itu diperlukan penanganan terhadap berbagai segi yang bermasalah secara serempak atau satu persatu dan sering kali di perlukan pula kerjasama dengan tkoh dan ahli yang bekerja dalam tim dengan pendekatan terpadu.
             Bila kita berhadapan dengan seorang remaja yang dinilai atau dicap nakal antara lain karena perbuatan-perbuatan yang sudah tidak bias diteloransi, baik oleh keluarga maupun lingkungannya, dan kemudian terjerumus dalam perbuatan yang tidak baik, seperti penyalahan narkotika, maka kita dirangsang untuk mengetahui lebih lanjut. Apakah-apakah perbuatan itu sebagai reaksi ataukah sebagai akibat. Namun, yang jelas ialah bahwa perbuatannya itu ada sebabnya. Jadi perbuatan dapat sebagai reaksi dan sebagai akibat.
            Untuk mengubah suatu perilaku, termaksud perilaku yang tidak dikehendaki seperti kenakalan perlu memahami sumber dan penyebabnya. Mengenai munculnya perilaku anak yang nakal dapat disebabkan oleh factor :
1.      Factor lingkungan keluarga
Keluarga merupakan unit social terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Kebiasaan cara hidup orang tua memberikan warna dasar terhadap pembentukan kepribadian anak.
            Factor pendukung terjadinya kenakalan remaja yang akhir-akhir ini mendapat sorotan tajam ialah factor keluarga khususnya orang tua. Orang tua kurang memahami arti mendidik anak, dan yang begitu sibuk bekerja untuk meningkatkan kehidupan social ekonomis, sehingga mereka ”melupakan’’ anak mereka. Kualitas rumah tangga atau kehidupan keluarga jelas memainkan peranan paling besar dalam membentuk kepribadian remaja delinkuen. Misalnya, poligami, pria idaman lain atau wanita idaman lain, penceraian sumua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan delinkuensi remaja. Hal-hal tersebut di atas dapat berakibat negate terhadap diri anak antara lain :
a.       Anak kurang mendapat perhatian, kasih saying dan tuntunan pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing-masing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik batin sendiri.
b.      Kebutuhan fisik maupun psikis anak-anak remaja menjadi tidak terpenuhi. Keinginan dan harapkan anak-anak tidak bias tersalur dengan memuaskan, atau tidak memdapat kompensasi.
c.       Anak-anak tidak pernah mendapat latihan fisik dan mental yang sangat di perlukan untuk hidup susila. Mereka tidak dibiasakan dengandisiplin dan control diri yang baik.
Dalam hubungan ini simanjuntank (1984:117-118) mengemukakan bahwa rumah tangga adalah suatu tempat yang menyenangkan bagi seorang anak, dimana terdapat ibu dan ayah yang bertanggung jawab, tempat berlindung, benteng yang kuat membendung pengaruh-pengaruh luar yang buruk. Rumah tangga yang berantakan akan membawah pengaruh psikologi buruk bagi perkembangan mental dan pendidikan anak, karena bentu pribadi anak terutama dibentuk dalam rumah tangga. Kehilangan ibu atau ayah dan bahkan keduanya mereka karena meninggal, bercerai dan lain sebagainya, akan menyebabkan anak kehilangan model orang dewasa, kehilangan kasih saying, kehilangan tenaga pendidik atau pembimbing yang sangat dibutuhkan.
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik kepada kehidupan yang baik yaitu anak yang mempunyai orang yang mencintai dan menghormatinnya, membantu dan melindunginya dalam segala hal. Sebagiaan orang tua terlalu sibuk diluar tak dapat memberikan waktu yang cukup kepada anak-anaknya, sehingga dapat mengakibatkan ia merasa dirinya di abaikan dan tak dicintai. Kesempatan ini sering digunakan untuk mencari kepuasan diluar dengan kawan-kawan yang senasib dan akhirnya membentuk geng-geng yang memilik sifat agresif, sehingga dapat mengganggu masyarakat. Hal ini bias mengarah kepada apa yang dinamakan kenakan.
Loeber dan dishion dalam linda (1994:181) menyatakan bahwa predictor yang sangat kuat tentang tingkah laku anti social dan tingkat kejahatan adalah variabel orang tua, terutama yang berhubungan dengan pemberian disiplin yang tidak konsisten dan tidak terlalu keras, serta pengawasan yang kurang terhadap anak.
Banyak orang tua beranggapan bahwa mendisiplinkan anak adalah mendidik mereka dengan kakekerasan. Namun kekerasan tidak sama dengan disiplin. Disiplin dengan melandasi ketegasan dalam menentukan sikap dan ketaatan perilaku sesuai dengan rencana. Namun ketegasan serta ketaatan tersebut tidak didasari rasa takut adanya ancaman melainkan didasari adanya kesadaran bahwa hal tersebut membawa manfaat besar bagi dirinya (Linda, 1994:182).
Kekerasan juga mencakup ketaatan, namun ketaatan ini dilandasi perasaan takut. Kekerasan belum tentu disertai kesadaran adanya manfaat suatu perilaku tertentu. Bahkan kekerasan cenderung menimbulkan sifat keras pula pada individu yang diperlakukan dengan keras.
Pengaruh status ekonomi keluarga yang rendah terhadap kepribadian remaja cenderung lebih menekankan kepatuhan pada figure-figur yang mempunyai otoritas, kelas menengah dan atas cenderung menekankan kepada pengembangan inisiatif, keingintahuan dan kreatifitas anak.
Conger dalam yusuf (2002:53) mengemukakan bahwa orang tua yang mengalami tekanan ekonomi atau perasaan tidak mampu menangani masalahn finansialnya, cenderung menjadi depresi, dan mengalami konflik keluarga, yang akhirnya akan mempengaruhi masalah remaja, seperti kurang harga diri, prestasi belajar rendah, kurang dapat bergaul dengan teman, mengalami masalah penyesuaian diri.

2.      Faktor lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah adalah salah satu lingkungan pendidikan formal kondisi persekolahan,system pengajaran di sekolah yang tidak menguntungkan akan menjerumuskan anak pada kenakalan. Mereka tidak mendapatkan kepuasan disekolah dan merasa bosan dengan pelajaran-pelajaran yang mungkin banyak tidak diperhatikan dengan baik ataupun tidak mendapat bimbingan yang baik tentang bagaimana belajar yang efektif. Kesempatan ini sering digunakan anak-anak untuk mengembangkan diri dengan anak-anak lain yang sering keluyuran dijalan pada waktu yang kosong. Hal ini dapat menyebabkan anak terlibat pada perbuatan yang tidak diinginkan (kartono,1991:58).
Dalam masyarakat modern yang serba kompleks sekarang tidak mengherankan kalau muncul pula satu tipe guru atau pengajar yang menderita neurosa ringan. Temperamennya sering meledak-meledak,kurang sabar,tidak punya rasa humor,getir hati dengan suara yang tinggi melengking atau serak sengau menjemukan sehingga murid-murid sukar menangkap pembicaraanya. Sikap guru ada yang acuh tak acuh,tidak peka terhadap keluhan dan kesulitan anak, sangat egoistic sifatnya, sehingga menyebarkan iklim anti pati dan tidak menimbulkan kegairahan belajar pada anak.
Guru adalah pengganti orang tua di sekolah yang selain berkewajiban melengkapi sianak di didik dengan ilmu pengetahuan, juga melengkapi si anak yang di didik kelak akan menjadi orang berguna dan bertanggung jawab. Tidak sedik murit yang bernbuat kurang ajar terhadap guru mereka tindakan guru yang salah, yang merusak citra seorang guru yang sejati. Banyak guru yang membolos sekolah dan merusak peralatan milik sekolah untuk menarik perhatian guru, karena guru hanya mengajar saja di kelas, sementara hubungan yang erat dan baik dengan murid-muridnya dilalaikan.

3.      Lingkungan masyarakat 
Lingkungan masyarakat juga tidak kalah pentingnya dalam memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak. Bila lingkungan masyarakat lemah atau tidak bertanggung jawab terhadap perkembangan anak, maka situasi ini memungkinkan anak membuat kenakalan baik ituyang dilakukan dengan sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kelompok atau geng yang terbentuk dari sekumpulan remaja senasib.
Jiwa para remaja amat labil. Jika mereka mendapat pengaruh buruk dari film biru, buku porno, bacaan immoral dan sadistis, banyak melihat perbuatan anti social yang dilakukan oleh orang dewasa, maka mereka dengan mudah terjangkit perilaku buruk dati (dijadikan pola kebiasaan yang menetap). Lalu beroperasilah gang-gang remaja brandalan yang biasanya “ gagal belajar”, dengan jalan mrnyebar terror di tengah lingkungan, selalu membuat onar dan berkelahi sepanjang hari.
Pola-pola asusila ini sangat mudah menjalar pada gang-gang anak mudah putus sekolah yang tidak memiliki motivasi lagi untuk belajar dan meningkatkan kepribadiannya. Mereka lebih bergairah melakukan eksperimen-eksperimen dalam “dunia hitam” yang dianggap penuh dengan misteri namun sangat menarik keremajaan mereka.

4.      Faktor psikologis
Kasih sayang merupakan kebutuhan pokok yang bersifat kejiwaan bagi setiap anak. Kebutuhan pokok tersebut menuntut kebutuhan sedini mungkin bebagai modal utama bagi perkembangan jiwa anak. Di dalam lingkungan keluarga pemenuhan rasa kasih saying tersebut tercermin dalam pemeliharaan, perhatian, sikap toleransi dan kelemah lembutan dari kedua orang tua di dalam pergaulan internal keluarga. Sebagai konsekuensi logis dari proses modernisasi. “cermin” rasa kasih sayamh tersebut mulai berkembang dan visualisasinya dapat berupa kesanggupan orang tua untuk membekali pendidikan kepada anak-anak, seperti : di pondok-pondok pesantren, menuntut ilmu di sekolah-sekolah formal, kursus-kursus keterampilan dan kerajinan (sudarsono, 1991 : 145).
Demikian pula pada umumnya rasa aman merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia yang bersifat psikologis. Dalam kondisi khusus rasa aman ikut menjadi factor penentu sukses atau gagalnya usaha untuk memperbaiki mental anak delinquent. Unsure utama yang terpokok dari rasa aman adalah ketentrama yang terjadi dasar mental anak remaja, sedangkan tidak adanya mengakibatkan dan menimbulkan keadaan yang berlawanan. Dalam interpretasi lain, anak remaja yang dalam masa perkembangannya sering menimbulkan ketegangan biasanya mudah merasa cemas, takut dan gelisah. Tidak mengherankan jika didalam proses pembinaan anak remaja; terutama anak-anak delinquent  diupayak untuk mendapat perhatian utama dan pertama sekali.
Menurut darajat dalam sudarsono (1991:155) perbuatan-perbuatan delinquent tersebut memberi petunjuk adanya gejolak jiwa anak yang sulit dikendalikan. Di damping itu bagi anak-anak yang sedang bertumbuh, agama mempunyai sifat yang sangat penting, yaitu untuk pemenang jiwa. Pada masa remaja (antara 13-21 tahun) anak-anak sedang mengalami kegoncangan jiwa.

C.    Upaya penanggulangan kenakalan remaja
Masa remaja adalah masa pembinaan terakhir sebelum memasuki masa dewasa yang penuh tanggung jawab. Setiap remaja selalu mengangan-angankan aneka macam kesenangan dan kebahagiaan. Akan tetapi ada juga yang takut menunggu masa dewasanya karena ia kurang pasti apakah ia nantinya akan bahagia atau sengsara. Bahkan adapula remaja yang benar-benar  tidak mampu membayangkan hari depanya dan tidak ia tahu apa yang harus diperbuat sekarang, sehingga ia bertualang menghabiskan usia remajanya dalam ketidak pastian. Kenakalan remaja membuat kurang aman, tidak damai, tidak tentram dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan usaha penanggulangan kenakalan remaja yang melibatkan anggota masyarakat, pemudah masyarakat, aliran utama, pejabat berwenang bahkan dalam lingkungan nasional pemerintah ikut terpanggil untuk bekerja sama secara sungguh.
Upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi kenakalan remaja dapat ditempuh melalui.
1.      Melaluyi keluarga
Bagaimanapun juga masalah kenakalan ini adalah masalah kita semua wirawan dalam kartono (1991:118) menyatakan bahwa pendidikan di rumah dalam hal ini orang tua memegang peranan penting.
Quay dalam kartono (1991:118) menyatakan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi perkembanagn remaja ialah factor keutuhan keluarga, utuh dalam struktur maupun utuh dalam interaksi. Utuh dalam struktur berarti bahwa dalam keluarga itu ada ayah, ibu dan anak-anak. Bila ayah dan ibu jarang  pulang, atau karena alas an tertentu meninggalkan anak-anaknya untuk waktu lama, maka sebenarnya keluarga itu sudah tidak utuh lagi. Utuh dalam interaksi berarti bahwa dalam keluarga itu ayah dan ibu sering cekcok, antara anggota keluarga saling bermusuhan, maka keluarga uti tidak utuh. 
            Jadi dapat disimpulkan, bahwa orang tua wajip menjaga keutuhan keluarga dan pengetahuan orang tua tentang bagaiman mendidik anak, juga bagaimana menciptakan hubungan yang harmonis dalam keluarga, perlu ditingkatkan. Salah satu cara yaitu dengan mengadakan kelompok-kelompok diskusi. 

2.      Melalui pendidikan
Sekolah merupakan tempat kedua setelah rumah bagi seorang remaja, di mana mereka menghabiskan waktu mereka,. Sekolah hendaknya menjadi sekolah yang mampu menjadikan dirinya suatu pusat kegiatan masyarakat, di mana guru, orang tua, anak didik secara bersama-sama dapat belajar dan bekerja pada suatu program masyarakat.
Guru memegang peranan penting setelah orang tua. Guru jangan menyampaikan materi (ilmu) saja, tetapi membina hubungan yang erat dan baik dengan anak didik. Guru merupakan contoh bagi murid-muridnya.
Pelajaran agama dan budipekerti adalah mutlak harus diajarkan disekolah. Tetapi pelajaran agama dan budipekerti tidak boleh terlalu bersifat transmisi, di mana hanya mendengar. Sekolah harus menciptakan suatu lingkungan di mana anak dapat mempraktekan teori-teori yang diajarkan.
Bibingan dan penyuluhan disekolah-sekolah juga mutlak perlu, karena kurangya tenaga bimbingan dan penyuluhan, diharapkan guru-guru tersebut sekaligus bertugas menjadi pembimbing siap membantu anak didik yang mempunyai masalah.
Kegiatan-kegiatan di luar sekolah seperti pramuka, kelompok diskusi belajar, pemutaran film slinde pendidikan, kelompok keagamaan, kelompok olah raga, sangat membantu remaja dalam mengisi waktu luang. Itu perlu untuk menghindari kegiatan negative jika remaja tidak tahu apa yang harus dia lakukan utuk mengisi waktu luang mereka.
3.      Melalui pendidikan agama
Dalam rangka pembinaan remaja pendidikan agama memegang peranan penting dam menentukan sebab pendidikan agama bukan hanya sekedar mengajar, membina, mengarahkan, membimbing atau member nasehat saja tetapi lebih jauh dari itu pendidikan agama akan menjadikan manusia lebih pandai, arif dan lebih mengenal takwa kepada tuhan yang maha esa. (Hermawan, 1992:60-72).
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pembagian jalur pendidikan untuk menanamkan pendidikan agama kepada remaja yaitu:
a. dalam rumah tangga
 b. dalam sekolah
 c. dalam pondok pesantren.
a.       Usaha preventif
Delinken itu ‘’ sukar disembuhkan’’. Mereka tidak ingin diubah. Baginya tak ada cara hidup yang lebih memuaskan. Kasih saying, pendidikan pengajaran ataupun pemberian pekerjaan tidak dapat menolongnya. Yang diinginkan hanyalah jangan tertangkap basa jika ia sedang beraksi, karena usaha penyembuhan boleh dikata tidak mampan, maka usaha lain yang dilakukan adalah preventif (pencegahan). Untuk kepeluan ini perlu dilakukan pencatata anak-anak yang merupakan calon delinken. Usaha untuk mengandung bahaya. Calon delinquent adalah memang anak-anak yang umumnya mengalami rejection. Jika ia kemudian, karena usaha penelitian dengan tes atau cara lain, dicap dengan calon delinquent, maka ia mengalami libih banyak perasaan ditolak, dan kemudian besar ia benar-benar menjadi delinken. Beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
1.      Karena pengaruh lingkungan, maka preventif dilakukan, dengan merombak atau merubah lingkungan, merubah tempat-tempat bermain, gelanggang remaja dan lain-lain. Perubahan ini perlu, tetapi diragukan apakah ini dapat mecegah delinkensi.
2.      Selain perubahan lingkungan, harus ada perubahan suasana emosional, baik dirumah maupun disekolah. Sedah terbukti bahwa orang tua yang menyelenggarkan kegiatan-kegiatan bersama yang sifatnya konstruktif dan menyenangkan seluruh keluarga pada waktu-waktu tertentu misalnya seminggu sekali, maka dalam keluarga itu boleh dikata tidak terjalin delinken. Dalam kegiatan ini muncul yang paling penting adalah bahwa setiap anggota mendapat peranan itu untuk menjadi suatu tujuan yang berarti.
3.      Cara lain yang dapat diusahakan adalah : a. member kegiatan dengan mana anak berhasil melakukanya, b. member pengalaman yang menyababkan anak merasa diterima (tidak rejet), c. menyediakan kemungkinan (cara-cara) yang pantas untuk  melampiaskan dorongan-dorongan emosionalnya.
4.      Beberapa saran bagi guru: a. menyediakan beberapa pengalaman bagi anak untuk melakukan pekerjaan tangan, kesenian music, sport yang berbeda tingkat kesukaranya, sehingga anak dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang memungkinkan dia mencapai kesuksesan, b. memahami kemampuan anak, menolong anak memahami kemampuan sendiri, dan mengembangkanya; c. memahami keterbatasan-keterbatasan anak, d. menolong anak memperoleh keterampilan dan pengetahuan tanpa mengalami kegagalan, e. membimbing kelas, sehinga setiap murid memperoleh kepuasan dan mendapat sukses dalam hubungan antara murid, f. memberikan kesempatan untuk mewujudkan respon-respon emosional yang pasif dan tidak perlu gusar, bahkan tak perlu menanggapi , bila dalam hal-hal yang kurang penting anak menunjukan respon yang tidak pantas, g. jika dalam kelas terjadi tingkah laku yang delinken, jangan marah hadapilah dengan objektif dan pengertian. Cobalah menempatkan diri pada kedudukan/status anak, cobalah memahami pandangan anak, h. lakukan hal-hal yang memungkinkan dapat merubah kondisi atau suasana dirumah. Sekolah ataupun masyarakat yang merupakan persemaian bagi bibit-bibit delinkensi, i. berusahala menyukai delikensi, sekalipun ia amat menjengkelkan.
b.      Upaya represif
Terhadap remaja yang telah melakukan kenakalan perlu dilakukan pengusutan, pemahaman, penuntutan dan hukuman guna menjamin rasa aman pada masyarakat dan remaja yang nakal itu sendiri. Berikut menurut kartono tindakan kreatif bagi usaha penyembuhan delinkuen antara lain:
1.      Menghilangkan sebab musabah tumbuhnya kenakalan remaja baik pribadi, family, social, ekonomi dan cultural
2.      Melukakan perubahan lingkungan
3.      Memindahkan anak-anak nakal di sekolah yang lebih baik atau ditengah lingkungan.  
4.      Memberikan latihan  bagi para remaja untuk hidup teratur, tertip dan disiplin.
5.      Memanfaatkan eaktu saenggang dengan baik
6.      Menggiatkan organisasi pemuda
7.      Mendirikan klinik psikologis. (kartono. 1986:97-98)
Disamping usaha-usaha secara preventif dan represif perlu pula adanya penyuluhan kesadarab hukum bagi anak remaja, hal ini dimaksudkan untuk mendidik anak/remaja tersebut hingga memerlukan pengertian hukum, kemudian mereka menghargai dan akhirnya mereka mampu mematuhi dengan sebaik-baiknya. System hokum yang harus diketahui , dihayati dipatuhi oleh anak remaja tidak hanya terbatas oleh hukum tertulis, akan tetapi lebih luas didalam mencakup hokum adat dan norma-norma yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat (sudarsono, 1990:94).
Sejalan dengan itu , menurut kartono (1989) bahwa usaha-usaha menanggulangi kenakalan remaja dapat ditempuh melalui usaha preventif, yaitu  mengadakan pencegahan dan peningkatan kesejahteraan keluarga, perbaikan lingkungan yaitu daerah kumuh, kampong-kampung miskin, mendirikan klinik bimbingan, menyediakan tempat rekreasi yang sehat, membentu badan kesejahteraan anak, mengadakan lembaga reformatif, mengadakan latihan untuk menyalurkan kreatifitas pada remaja dan menyusun undang-undang khusus untu pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan. Sedangkan tindakan hokum yang dilakukan adalah berupa penghukuman sesuai dengan perbuatanya.
Sehubungan dengan upaya penanggulangan tersebut diatas, maka layanan-layanan yang tekait dengan hal tersebut adalah :
1.      Layanan informasi
Layanan informasi adalah layanan bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik atau klien menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik atau klien.
2.      Bimbingan belajar
Bimbingan belajar adalah salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting untuk diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami oleh siswa dalam belajat tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. Kegagalan siswa boleh terjadi karena tidak mendapat layanan bimbingan yang baik atau yang memadai.
Layananbimbingan dilaksanakan melalui tahap:
a.       Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar,
b.      Pengungkapan sebab-sebab munculnya masalah belajar
c.       Pemberian bantuan
3.      Layanan konseling perorangan
Pada bagian ini konseling dimaksud sebagai hubungan langsung tatap muka antara konselor atau klien. Dalam hal ini masalah klien dicermati dan upayakan pengentasanya, dalam kaitan itu, konselor dianggap sebagai uapaya layanan yang paling utama dalam pelaksanaan fungsi pengentasan masalah klien. Bahwa dikatakan bahwa konselor merupakan ‘’jantung hati’’ pelayanan bimbingan secara menyeluruh. Hal ini berarti bahwa apabila konselor telah memberikan saranya, maka masalah klien akan teratasi secara efektif dan upaya-upaya bimbingan lainya tinggal mengikuti atau berperan sebagai pendamping.






BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif yaitu menggambarkan factor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja dan usaha mengatasinya pada siswa SMP Negeri satu atap 1 kabawo.
B.     Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri satu atap 1 kabawo pada waktu bulan November 2012.
C.    Variabel penelitian
Variable dalam penelitian ini adalah factor-faktor penyebab kenakalan remaja dan upaya penanggulanganya pada SMP Negeri satu atap 1kabawo.
D.    Populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri satu atap 1 kabawoyang berjumlah 270 siswa dan 20 orang dewan guru. Namun dari catatan sekolah jumlah siswa yang termaksud dalam kategori nakal sebanyak 42 orang siswa. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah 42 orang siswa dan 6 orang guru. Berhubung jumlah populasi sangat terbatas maka keseluruhan anggota populasi ditetapkan sebagai sampel.


No
Kelas

jumlah
I
II
III
1A
1B
1C
11A
11B
11C
IPA 1
IPS 1
IPS 2
1.       
1
3
4
-
5
10
-
7
12
42

8
15
19
42

E.     Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari dua yaitu:
1.      Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data tentang factor-faktor penyebab kenakalan remaja dan usaha mengatasinya.
2.      Wawancara (interview) adalah untuk melengkapi data dari angket tentang factor-faktor penyebab kenakalan remaja dengan mengadakan langsung wawancara kepada kepala sekolah, wa;o kelas dan guru.
F.     Teknik Analisis Data
Tenik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Data lapangan diolah dan dipersentasekan dalam bentuk table kemudian dideskripsikan secara kulitatif untuk memperoleh gambaran umum penyebab kenakalan remaja dan upaya penangulanganya sebagaimana dengan tujuan dalam penelitian ini

 
DAFTAR PUSTAKA
Bonger , WA. 1970. Pengantar Tentang Kriminologi (terjemahan RA koesnoen). Jakarta : PT.   
pembangunan
De Clerq, linda. 1994. Tingkah Laku Abnormal dan Sudut Pengembanganya. Jakarta : PT.  grasindo
Gunarsah, singgih dan yulia singgih. 1995. Psikologi Praktis : anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta : gunung mulia.
Hurlock, Elizabeth, B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta : erlangga/
Hermawan,  Rahman. 1992. Penyalahgunaan Narkotika Oleh Para Remaja; Suatu Pendekatan Terhadap Masalah dan Usaha-Usaha Penanggulanganya. Bandung : eresco.
Kartono kartini. 1986. Patologi Social; Kenakalan Remaja. Jakarta : rajawali
………………. 1991. Bimbingan Bagi Anak dan Remaja yang Bermasalah. Jakarta : rajawali.
Pohan, imam, M. 1986. Masalah Anak dan Anak Bermasalah. Jakarta : midas surya Gravindo CV Intermedia.
Samil, Ali, H. 2000. Panduan Praktis Bagi Orang Tua; Mendampingi Remaja Meraih Sukses. Jakarta : pustaka popular obor.
Sastrawijaya, safiyudin. 1977. Beberapa Masalah Tentang Kenakalan Remaja. Bandung : PT Karya Nusantara.
Singgih, yulia D. 1995. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia.
Sumajuntak, B. 1984. Latar Belakang Kenakalan Remaja. Bandung : alumni.
Sudarsono. 1990. Kenakalan Remaja, Prevalensi, Rehabilitasi dan Resosialisasi. Jakarta : Rineka Cipta.
Syamsu Yusuf, LN. 2001. Psokologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : PT remaja Rosdakarya.   



Tidak ada komentar:

Posting Komentar