Minggu, 03 Februari 2013
Jumat, 04 Januari 2013
Contoh Proposal Penelitian
PENGARUH KEMAMPUAN MENGAJAR GURU
TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI 5 KOLONO
Ditulis Untuk Memenuhi Sebagai
Persyaratan Dalam Menempuh
Gelar Sarjana Pendidikan
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN
JUDUL............................................................................................... i
DAFTAR
ISI .......................................................................................................... ii
BAB
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang .................................................................................. 1
B.
Rumusan Masalah .............................................................................. 3
C.
Tujuan Penelitian ....................................................................... ....... 3
D.
Manfaat Penelitian ............................................................................. 4
E.
Hipotesis Penelitian ........................................................................... 4
BAB
II. KAJIAN PUSTAKA
A.
Pengertian Pendidikan ....................................................................... 5
B.
Tujuan Pendidikan
............................................................................ 6
C.
Kemampuan Mengajar Guru ............................................................. 6
D.
Guru Sebagai Pendidik
..................................................................... 14
E.
Peranan dan Kedudukan Guru dalam Proses Belajar
Mengajar ........ 18
F.
Prestasi Belajar Siswa ........................................................................ 21
G.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa ............... 26
BAB
III. METODOLOGI PENELITIAN
A.
Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 29
B.
Populasi dan Sampel
......................................................................... 29
C.
Jenis dan Sumber data
...................................................................... 29
D.
Desain Penelitian ............................................................................... 30
E.
Definisi Operasional dan Variabel ..................................................... 30
F.
Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 30
G.
Teknik Analisis Data ......................................................................... 31
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Penegakan
tata tertip diperlukan oleh para siswa secara keseluruhan dalam rangka
penegakannya sekaligus mencegah pelanggaran yang akan dilakukan oleh siswa
terhadap peraturan sekolah, perusakan fasilitas sekolah, pulang sebelum
waktunya (bolos) dan kebiasaan mengganggu teman yang sedang belajar selama jam
belajar sekolah berlangsung. Dengan demikian akan tercipta suatu keadaan yang
harmonis dan dimanis dalam pelaksanaan kegiatan mengajar menuju tercapainya
tujuan sekolah secara khusus yaitu peningkatan kualitas siswa, dan tujuan
pendidikan secara umum yaitu meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berbudi luhur, berkepribadian, berdisiplin, serta sehat jasmani dan
rohani.
Proses
penanganan kenakan remaja telah menjadi program pemerintah, karena masalah ini
apabila tidak ditangani secara dini, akan berdampak negative terhadap anak yang
bersangkutan di kemudian hari.
Bonger
(1970:124-125) telah memberikan perhatiannya dengan mengemukakan bahwa
kejahatan anak remaja dan pemudah sudah merupakan bagian yang terbesar dalam
kejahatan. Lagi pula kebanyakan penjahat yang sudah dewasa umumnya sudah
merosok kesusilaannya sejak kecil.
Berbagai
masalah sosial akan mempengaruhi kenakalan remaja. Masalah yang terjadi dalam
lingkungan keluarga, seperti keluarga broken home yang kadang-kadang
menimbulkan penceraian yang akan menimbulkan kesan yang kurang perhatian orang tua
terhadap perkembangan dan kebutuhan anak disebabkan kurangnya uluran kasih
sayang yang didambakan sang anak. Kondisi ekonomi keluarga pun sangat
menentukan . kekayaan yang berlebihan ditambah dengan memanjakan anak akan
berakibat terhadap munculnya kesombongan (kebanggaan yang berlebihan) atau
sebaliknya kondisi ekonomi yang buruk mendorong timbulnya frustasi, karena
tidak terpenuhinya kebutuhan anak menurut perkembangan lingkungan.
Lingkungan
merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam hal munculnya
kenakalan remaja. Teman-teman sebaya dengan mudah dapat mempengaruhi
kelompoknya dalam melakukan hal-hal yang dikualifikasikan sebagai kenakalan.
Berdasarkan
pola pikiran di atas, maka dalam menangani masalah kenakalan remaja, utamanya
yang sedang dalam usia sekolah, perlu perhatian yang serius terutama dari guru
bimbingan dan konseling (BK). Karena tanpa optimalisasi perhatian dari mereka,
maka siswa yang akan dihasilkan nantinya akan mempunyai moral yang kurang baik
dan akan menjadi generasi penerus yang menyandang masalah sosial.
SMP
Negeri Satu Atap 1 Kabawo adalah salah satu sekolah negeri yang ada di
kecamatan kabawo Kabupaten Muna, dimana sebahagiaan siswanya melakukan tindakan
atau perbuatan yang melanggar tata tertib sekolah yang dapat digolongkan dalam
kenakalan remaja, seperti merokok dalam kelas, mengganggu ketenangan belajar
siswa lainya, membuat keributan atau keonaran dalam lingkungan sekolah dan
beberapa kenakalan remaja lainnya.
Akhir-akhir
ini pelanggaran atau perbuatan nakal siswa disekolah tersebut menunjukan
gejalah serius. Berdasarkan catatan (dokumen sekolah) dari 278 siswa ada 151
siswa yang tergolong nakal yakni pembolos 52 orang siswa, merusak fasilitas
sekolah 12 orang siswa, kurang mematuhi aturan sekolah 32 orang siswa, mengganggu
ketenangan belajar 36, berkelahi 15 dan merokok 4 orang siswa laki-laki.
Kondisi ini perlu mendapat perhatian yang serius oleh orang tua, sekolah maupun
masyarakat.
Berdasarkan
uraian di atas maka penulis merasa tertarik untuk meneliti :
Faktor-faktor
yang menyebabkan kenakalan Remaja dan usaha mengatasinya pada Siswa SMP Negeri
Satu atap 1 Kabawo Kabupaten Muna.
B. Batasan penelitian
Menyadari
luasnya persoalan yang menyakut permasalahan factor yang mempengaruhi kenakalan
remaja, maka masalah peneliti ini di batasi hanya pada :
1.
factor-faktor menyebabkan kenakalan remaja
2.
upaya yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam menangani kenakalan remaja
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1.
faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kenakalan remaja pada siswa
SMPN 1 Atap 1 Kabawo?
2.
upaya-upayah apakah yang dilakukan oleh pihak sekolah SMP Negeri 1 Atap 1
Kabawo dalam hal menanggulangi kenakalan remaja/siswa selama tahun 2012/2013?
D. Tujuan Penelitian
Adapun
tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
untuk mengetahui jenis-jenis kenakalan remaja yang dilakukan remaja pada siswa
SMP Negeri Satu Atap 1 Kabawo.
2.
untuk mengetahui penyebab kenakalan remaja pada siswa SMP Negeri Satu Atap 1
Kabawo.
3.
untuk mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh pihak-pihak sekolah (SMP
Negeri Satu Atap 1 Kabawo) dalam hal menanggulangi kenakalan remaja atau siswa.
E. Manfaat Penelitian
Hasil
penelitian yang diperoleh mempunyai manfaat sebagai berikut :
1.
sebagi bahan informasi bagi para siswa, khususnya siswa SMP Negeri Satu atap 1
kabawo Kabupaten Muna , agar mereka dapat menghindarkan diri dari
perbuatan-perbuatan yang tidak baik.
2.
sebagai bahan masukan bagi orang tua, khususnya yang mempunyai anak remaja,
dalam pembinaan anak-anak agar tidak terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan
yang tidak baik.
3.
sebagai bahan masukan bagi para pendidik, khususnya guru-guru di sekolah, dalam
mendidik dan membina siswa-siswanya kea rah yang demokratis dan bermoral.
4.
sebagai bahan rujukan untuk rekan-rekan guru BK dalam menilai masalah siswa dan
langkah yang harus diambil dalam penyelesaian masalahnya; dan
5.
sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang relefan dengan peneliti ini.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Pengertian kenakalan
1. pengertian kenakalan
Masalah kenakalan remaja di Indonesia ternyata banyak menarik perhatian
beberapa ahli ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan anak atau
remaja.
Singgih
(1995:15) menyatakan bahwa kenakalan merupakan tingkah laku anak yang
menimbulkan persoalan bagi orang lain. Sedangkan menurut Sastrawijaya (1977:24)
kenakalan diartikan sebagai kelainan tingkah laku, perbuatan atupun tindakan
remaja yang bersifat asocial bahkan anti sosial yang melanggar norma-norma
sosial, agama serta ketentuan hokum yang berlaku dalam masyarakat.
Juvenile delinquency adalah perilaku jahat atau dursila, atau
kejahatan/kenakalan anak-anak muda ; merupakan segala sakit (patilogis) secara
sosial pada anak-anak dan remaja disebabkan oleh satu bentuk pengabaiaan
sosial, sehingga mereka itu menmgembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang
(Kartono : 1992:7).
Menurut
pohan (1986:3) kenakalan merupakan tingkah laku seseorang yang dapat
menimbulkan persoalan bagi orang lain. Mungkin bagi orang tuanya, bagi guru
atau bagi masyarakat di sekitarnya. Kenakalan terjadi sebagai refleksi dari
adanya kepincangan atau ketidakseimbangan yang terdapat dalam masyarakat
umumnya bersumber dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup dan
kehidupan seseorang dalam keluarganya.
Jadi
kenakalan adalah tingkah laku yang melanggar norma-norma dalam masyarakat yang
menimbulkan persoalan bagi orang lain.
2. Pengertian Remaja dan
Ciri-Cirinya
Fase
remaja merupakan segmen perkembangan individu yang sangat penting yang diawali
dengan matangnya organ-organ fisik (seksual) sehingga mampu bereproduksi.
Syamsu
dalam yusuf (2001:13) mengemukakan bahwa remaja merupakan masa perkembangan
sifat tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arak kemandirian
(independence) minat-minat seksual, perenungan diri dan isu-isu normal.
Dalam
budaya amerika, periode remaja ini di pandang sebagai masa storm dan stress,
frustasi dan penderitaan , konflik dan krisis penyesuaiaan, mimpi dan melamun
tentang cinta, dan perasaan teralienasi (tersisihkan) dari kehidupan sosial
budaya orang dewasa (Yusuf, 2001:13).
Piaget dalam Hurlock (1980;206) menyatakan
masa remaja adalah usia dimana individu berinteraksi dengan masyarakat dewasa,
usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang-orang yang lebih tua
melainkan berada pada tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya masalah hak.
Menurut
Rahayu (2002:259) anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas.
Tidak termaksud golangan anak, tetapi tidak pula termaksud golongan orang
dewasa.
Samil
(2000:5) mengatakan bahwa remaja adalah anak yang berusia 12-23 tahun di mana
pada masa ini anak akan mengalami
peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa.
Secara
psikologi batas usia remaja lebih banyak tergantung pada keadaan masyarakat di
mana remaja itu hidup, yang dapat ditentukan dengan pasti adalah permulaanya,
yaitu puber pertama atau mulainya perubahan jasmani dari anak menjadi dewasa
kira-kira umur 12 tahun atau permulaan 13 tahun (Darajat, 1985:109). Akan
tetapi akhirnya remaja itu didak sama. Pada masyarakat desa, setiap anak telah
ikut bekerja ke sawah, ke lading, menangkap ikan dan sebagainya, si anak dapat
cepat ikut dalam mencari kehidupan atau rejeki, keterampilan ilmu pengetahuan
dan tidak merasa sukar untuk mencapainya, maka segera setelah pertumbuhan
jasmaninya tampak sempurna, maka ia diberi kepercayaan dan tanggung jawab
sebagai orang dewasa, dia telah dapat menikah dengan demikian masa remajanya
berakhir, dan mungkin saja umurnya baru 15 atau 16 tahun. Pada masyarakat yang
sedikit lebih maju, di mana perlu sedkit ilmu pengetahuan formil yang didapat
di sekolah dan keterampilan social tertentu, maka umur tersebut di perpanjang
sampai 18 tahun. Dalam masyarakat yang maju biasanya banyak persyaratan yang
dipelukan agar seseorang dapat diterima sebagai orang dewasa yang mampu
memberikan tanggung jawab. Untuk itu perlu perpanjang masa remaja sampai
kira-kira umu 21 tahun. Pada umur tersebut, diperkirakan telah terjadi
kematangan di segala segi.
Berdasarkan
pendapat-pendapat tersebut maka dikemukakan bahwa secara teoritis maupun secara
empiris dar segi psokologi rentang usia remaja berada dalam usia 12 – 15 tahun
yang dapat melanggar norma-norma social dalam masyarakat.
Menurut
Hurlock (1980:208) seperti halnya dengan semua periode yang penting selama
rentang kehidupan, masa remaja mempunyai cirri-ciri sebagai berikut adalah :
1. Masa
remaja sebagai periode yang penting.
2. Masa
remaja sebagi periode peralihan
3. Masa
remaja sebagai periode perubahan.
4. Masa
remaja sebagai usia bermasalah.
5. Masa
remaja sebagai masa mencari identitas.
6. Masa
remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan.
7. Masa
remaja sebagai masa yang tidak realistic.
8. Masa
remaja sebagai ambang masa dewasa.
B. faktor-faktor penyebab kenakalan
remaja
Menurut gunarsah (1995:182 dan 189)
timbulnya suatu masalah pada remaja sihingga memperlihatkan perilaku yang
menyimpang, tidak selalu berupa rangkaian sebab-akibat yang bersifat
monokausal, satu sebab menyababkan satu akibat, melainkan lebih luas dan lebih
kompleks, bukan saja multikasal tetapi berantai (dari satu sebab timbul akibat
dan sebaliknya akibat ini menjadi sebab yang baru) atau melingkar (dari satu
sebab timbul akibat dan selanjutnya akibat ini berpengaruh terhadap sebab
semula). Pada kasus-kasus tertentu karena itu diperlukan penanganan terhadap
berbagai segi yang bermasalah secara serempak atau satu persatu dan sering kali
di perlukan pula kerjasama dengan tkoh dan ahli yang bekerja dalam tim dengan
pendekatan terpadu.
Bila kita berhadapan dengan seorang remaja
yang dinilai atau dicap nakal antara lain karena perbuatan-perbuatan yang sudah
tidak bias diteloransi, baik oleh keluarga maupun lingkungannya, dan kemudian
terjerumus dalam perbuatan yang tidak baik, seperti penyalahan narkotika, maka
kita dirangsang untuk mengetahui lebih lanjut. Apakah-apakah perbuatan itu
sebagai reaksi ataukah sebagai akibat. Namun, yang jelas ialah bahwa
perbuatannya itu ada sebabnya. Jadi perbuatan dapat sebagai reaksi dan sebagai
akibat.
Untuk mengubah suatu perilaku,
termaksud perilaku yang tidak dikehendaki seperti kenakalan perlu memahami
sumber dan penyebabnya. Mengenai munculnya perilaku anak yang nakal dapat
disebabkan oleh factor :
1.
Factor
lingkungan keluarga
Keluarga
merupakan unit social terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan
anak. Kebiasaan cara hidup orang tua memberikan warna dasar terhadap
pembentukan kepribadian anak.
Factor
pendukung terjadinya kenakalan remaja yang akhir-akhir ini mendapat sorotan
tajam ialah factor keluarga khususnya orang tua. Orang tua kurang memahami arti
mendidik anak, dan yang begitu sibuk bekerja untuk meningkatkan kehidupan
social ekonomis, sehingga mereka ”melupakan’’ anak mereka. Kualitas rumah
tangga atau kehidupan keluarga jelas memainkan peranan paling besar dalam
membentuk kepribadian remaja delinkuen. Misalnya, poligami, pria idaman lain
atau wanita idaman lain, penceraian sumua itu merupakan sumber yang subur untuk
memunculkan delinkuensi remaja. Hal-hal tersebut di atas dapat berakibat negate
terhadap diri anak antara lain :
a. Anak
kurang mendapat perhatian, kasih saying dan tuntunan pendidikan orang tua,
terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing-masing sibuk mengurusi
permasalahan serta konflik batin sendiri.
b. Kebutuhan
fisik maupun psikis anak-anak remaja menjadi tidak terpenuhi. Keinginan dan
harapkan anak-anak tidak bias tersalur dengan memuaskan, atau tidak memdapat
kompensasi.
c. Anak-anak
tidak pernah mendapat latihan fisik dan mental yang sangat di perlukan untuk
hidup susila. Mereka tidak dibiasakan dengandisiplin dan control diri yang
baik.
Dalam hubungan
ini simanjuntank (1984:117-118) mengemukakan bahwa rumah tangga adalah suatu
tempat yang menyenangkan bagi seorang anak, dimana terdapat ibu dan ayah yang
bertanggung jawab, tempat berlindung, benteng yang kuat membendung
pengaruh-pengaruh luar yang buruk. Rumah tangga yang berantakan akan membawah
pengaruh psikologi buruk bagi perkembangan mental dan pendidikan anak, karena
bentu pribadi anak terutama dibentuk dalam rumah tangga. Kehilangan ibu atau
ayah dan bahkan keduanya mereka karena meninggal, bercerai dan lain sebagainya,
akan menyebabkan anak kehilangan model orang dewasa, kehilangan kasih saying,
kehilangan tenaga pendidik atau pembimbing yang sangat dibutuhkan.
Dari uraian
tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa anak yang dapat menyesuaikan diri
dengan baik kepada kehidupan yang baik yaitu anak yang mempunyai orang yang
mencintai dan menghormatinnya, membantu dan melindunginya dalam segala hal.
Sebagiaan orang tua terlalu sibuk diluar tak dapat memberikan waktu yang cukup
kepada anak-anaknya, sehingga dapat mengakibatkan ia merasa dirinya di abaikan
dan tak dicintai. Kesempatan ini sering digunakan untuk mencari kepuasan diluar
dengan kawan-kawan yang senasib dan akhirnya membentuk geng-geng yang memilik
sifat agresif, sehingga dapat mengganggu masyarakat. Hal ini bias mengarah
kepada apa yang dinamakan kenakan.
Loeber dan
dishion dalam linda (1994:181) menyatakan bahwa predictor yang sangat kuat
tentang tingkah laku anti social dan tingkat kejahatan adalah variabel orang
tua, terutama yang berhubungan dengan pemberian disiplin yang tidak konsisten
dan tidak terlalu keras, serta pengawasan yang kurang terhadap anak.
Banyak orang tua
beranggapan bahwa mendisiplinkan anak adalah mendidik mereka dengan
kakekerasan. Namun kekerasan tidak sama dengan disiplin. Disiplin dengan
melandasi ketegasan dalam menentukan sikap dan ketaatan perilaku sesuai dengan
rencana. Namun ketegasan serta ketaatan tersebut tidak didasari rasa takut
adanya ancaman melainkan didasari adanya kesadaran bahwa hal tersebut membawa
manfaat besar bagi dirinya (Linda, 1994:182).
Kekerasan juga
mencakup ketaatan, namun ketaatan ini dilandasi perasaan takut. Kekerasan belum
tentu disertai kesadaran adanya manfaat suatu perilaku tertentu. Bahkan
kekerasan cenderung menimbulkan sifat keras pula pada individu yang
diperlakukan dengan keras.
Pengaruh status
ekonomi keluarga yang rendah terhadap kepribadian remaja cenderung lebih
menekankan kepatuhan pada figure-figur yang mempunyai otoritas, kelas menengah
dan atas cenderung menekankan kepada pengembangan inisiatif, keingintahuan dan
kreatifitas anak.
Conger dalam
yusuf (2002:53) mengemukakan bahwa orang tua yang mengalami tekanan ekonomi
atau perasaan tidak mampu menangani masalahn finansialnya, cenderung menjadi
depresi, dan mengalami konflik keluarga, yang akhirnya akan mempengaruhi
masalah remaja, seperti kurang harga diri, prestasi belajar rendah, kurang
dapat bergaul dengan teman, mengalami masalah penyesuaian diri.
2.
Faktor
lingkungan sekolah
Lingkungan
sekolah adalah salah satu lingkungan pendidikan formal kondisi
persekolahan,system pengajaran di sekolah yang tidak menguntungkan akan
menjerumuskan anak pada kenakalan. Mereka tidak mendapatkan kepuasan disekolah
dan merasa bosan dengan pelajaran-pelajaran yang mungkin banyak tidak
diperhatikan dengan baik ataupun tidak mendapat bimbingan yang baik tentang
bagaimana belajar yang efektif. Kesempatan ini sering digunakan anak-anak untuk
mengembangkan diri dengan anak-anak lain yang sering keluyuran dijalan pada
waktu yang kosong. Hal ini dapat menyebabkan anak terlibat pada perbuatan yang
tidak diinginkan (kartono,1991:58).
Dalam masyarakat
modern yang serba kompleks sekarang tidak mengherankan kalau muncul pula satu
tipe guru atau pengajar yang menderita neurosa ringan. Temperamennya sering
meledak-meledak,kurang sabar,tidak punya rasa humor,getir hati dengan suara
yang tinggi melengking atau serak sengau menjemukan sehingga murid-murid sukar
menangkap pembicaraanya. Sikap guru ada yang acuh tak acuh,tidak peka terhadap
keluhan dan kesulitan anak, sangat egoistic sifatnya, sehingga menyebarkan
iklim anti pati dan tidak menimbulkan kegairahan belajar pada anak.
Guru adalah pengganti
orang tua di sekolah yang selain berkewajiban melengkapi sianak di didik dengan
ilmu pengetahuan, juga melengkapi si anak yang di didik kelak akan menjadi
orang berguna dan bertanggung jawab. Tidak sedik murit yang bernbuat kurang
ajar terhadap guru mereka tindakan guru yang salah, yang merusak citra seorang
guru yang sejati. Banyak guru yang membolos sekolah dan merusak peralatan milik
sekolah untuk menarik perhatian guru, karena guru hanya mengajar saja di kelas,
sementara hubungan yang erat dan baik dengan murid-muridnya dilalaikan.
3.
Lingkungan
masyarakat
Lingkungan
masyarakat juga tidak kalah pentingnya dalam memberikan pengaruh terhadap
perkembangan anak. Bila lingkungan masyarakat lemah atau tidak bertanggung
jawab terhadap perkembangan anak, maka situasi ini memungkinkan anak membuat
kenakalan baik ituyang dilakukan dengan sendiri-sendiri maupun dalam bentuk
kelompok atau geng yang terbentuk dari sekumpulan remaja senasib.
Jiwa
para remaja amat labil. Jika mereka mendapat pengaruh buruk dari film biru,
buku porno, bacaan immoral dan sadistis, banyak melihat perbuatan anti social
yang dilakukan oleh orang dewasa, maka mereka dengan mudah terjangkit perilaku
buruk dati (dijadikan pola kebiasaan yang menetap). Lalu beroperasilah
gang-gang remaja brandalan yang biasanya “ gagal belajar”, dengan jalan
mrnyebar terror di tengah lingkungan, selalu membuat onar dan berkelahi
sepanjang hari.
Pola-pola
asusila ini sangat mudah menjalar pada gang-gang anak mudah putus sekolah yang
tidak memiliki motivasi lagi untuk belajar dan meningkatkan kepribadiannya.
Mereka lebih bergairah melakukan eksperimen-eksperimen dalam “dunia hitam” yang
dianggap penuh dengan misteri namun sangat menarik keremajaan mereka.
4.
Faktor
psikologis
Kasih sayang
merupakan kebutuhan pokok yang bersifat kejiwaan bagi setiap anak. Kebutuhan
pokok tersebut menuntut kebutuhan sedini mungkin bebagai modal utama bagi
perkembangan jiwa anak. Di dalam lingkungan keluarga pemenuhan rasa kasih
saying tersebut tercermin dalam pemeliharaan, perhatian, sikap toleransi dan
kelemah lembutan dari kedua orang tua di dalam pergaulan internal keluarga.
Sebagai konsekuensi logis dari proses modernisasi. “cermin” rasa kasih sayamh
tersebut mulai berkembang dan visualisasinya dapat berupa kesanggupan orang tua
untuk membekali pendidikan kepada anak-anak, seperti : di pondok-pondok
pesantren, menuntut ilmu di sekolah-sekolah formal, kursus-kursus keterampilan
dan kerajinan (sudarsono, 1991 : 145).
Demikian pula
pada umumnya rasa aman merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia
yang bersifat psikologis. Dalam kondisi khusus rasa aman ikut menjadi factor
penentu sukses atau gagalnya usaha untuk memperbaiki mental anak delinquent.
Unsure utama yang terpokok dari rasa aman adalah ketentrama yang terjadi dasar
mental anak remaja, sedangkan tidak adanya mengakibatkan dan menimbulkan
keadaan yang berlawanan. Dalam interpretasi lain, anak remaja yang dalam masa
perkembangannya sering menimbulkan ketegangan biasanya mudah merasa cemas,
takut dan gelisah. Tidak mengherankan jika didalam proses pembinaan anak
remaja; terutama anak-anak delinquent
diupayak untuk mendapat perhatian utama
dan pertama sekali.
Menurut darajat
dalam sudarsono (1991:155) perbuatan-perbuatan delinquent tersebut memberi petunjuk adanya gejolak jiwa anak yang
sulit dikendalikan. Di damping itu bagi anak-anak yang sedang bertumbuh, agama
mempunyai sifat yang sangat penting, yaitu untuk pemenang jiwa. Pada masa
remaja (antara 13-21 tahun) anak-anak sedang mengalami kegoncangan jiwa.
C.
Upaya
penanggulangan kenakalan remaja
Masa
remaja adalah masa pembinaan terakhir sebelum memasuki masa dewasa yang penuh
tanggung jawab. Setiap remaja selalu mengangan-angankan aneka macam kesenangan
dan kebahagiaan. Akan tetapi ada juga yang takut menunggu masa dewasanya karena
ia kurang pasti apakah ia nantinya akan bahagia atau sengsara. Bahkan adapula
remaja yang benar-benar tidak mampu
membayangkan hari depanya dan tidak ia tahu apa yang harus diperbuat sekarang,
sehingga ia bertualang menghabiskan usia remajanya dalam ketidak pastian.
Kenakalan remaja membuat kurang aman, tidak damai, tidak tentram dalam
kehidupan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan usaha penanggulangan kenakalan
remaja yang melibatkan anggota masyarakat, pemudah masyarakat, aliran utama,
pejabat berwenang bahkan dalam lingkungan nasional pemerintah ikut terpanggil
untuk bekerja sama secara sungguh.
Upaya-upaya
yang dilakukan dalam mengatasi kenakalan remaja dapat ditempuh melalui.
1. Melaluyi
keluarga
Bagaimanapun
juga masalah kenakalan ini adalah masalah kita semua wirawan dalam kartono
(1991:118) menyatakan bahwa pendidikan di rumah dalam hal ini orang tua
memegang peranan penting.
Quay dalam
kartono (1991:118) menyatakan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi
perkembanagn remaja ialah factor keutuhan keluarga, utuh dalam struktur maupun
utuh dalam interaksi. Utuh dalam struktur berarti bahwa dalam keluarga itu ada
ayah, ibu dan anak-anak. Bila ayah dan ibu jarang pulang, atau karena alas an tertentu
meninggalkan anak-anaknya untuk waktu lama, maka sebenarnya keluarga itu sudah
tidak utuh lagi. Utuh dalam interaksi berarti bahwa dalam keluarga itu ayah dan
ibu sering cekcok, antara anggota keluarga saling bermusuhan, maka keluarga uti
tidak utuh.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa orang
tua wajip menjaga keutuhan keluarga dan pengetahuan orang tua tentang bagaiman
mendidik anak, juga bagaimana menciptakan hubungan yang harmonis dalam
keluarga, perlu ditingkatkan. Salah satu cara yaitu dengan mengadakan
kelompok-kelompok diskusi.
2. Melalui
pendidikan
Sekolah
merupakan tempat kedua setelah rumah bagi seorang remaja, di mana mereka
menghabiskan waktu mereka,. Sekolah hendaknya menjadi sekolah yang mampu
menjadikan dirinya suatu pusat kegiatan masyarakat, di mana guru, orang tua,
anak didik secara bersama-sama dapat belajar dan bekerja pada suatu program
masyarakat.
Guru
memegang peranan penting setelah orang tua. Guru jangan menyampaikan materi
(ilmu) saja, tetapi membina hubungan yang erat dan baik dengan anak didik. Guru
merupakan contoh bagi murid-muridnya.
Pelajaran
agama dan budipekerti adalah mutlak harus diajarkan disekolah. Tetapi pelajaran
agama dan budipekerti tidak boleh terlalu bersifat transmisi, di mana hanya
mendengar. Sekolah harus menciptakan suatu lingkungan di mana anak dapat
mempraktekan teori-teori yang diajarkan.
Bibingan
dan penyuluhan disekolah-sekolah juga mutlak perlu, karena kurangya tenaga
bimbingan dan penyuluhan, diharapkan guru-guru tersebut sekaligus bertugas
menjadi pembimbing siap membantu anak didik yang mempunyai masalah.
Kegiatan-kegiatan
di luar sekolah seperti pramuka, kelompok diskusi belajar, pemutaran film
slinde pendidikan, kelompok keagamaan, kelompok olah raga, sangat membantu
remaja dalam mengisi waktu luang. Itu perlu untuk menghindari kegiatan negative
jika remaja tidak tahu apa yang harus dia lakukan utuk mengisi waktu luang
mereka.
3. Melalui
pendidikan agama
Dalam
rangka pembinaan remaja pendidikan agama memegang peranan penting dam
menentukan sebab pendidikan agama bukan hanya sekedar mengajar, membina,
mengarahkan, membimbing atau member nasehat saja tetapi lebih jauh dari itu
pendidikan agama akan menjadikan manusia lebih pandai, arif dan lebih mengenal
takwa kepada tuhan yang maha esa. (Hermawan, 1992:60-72).
Lebih
lanjut dijelaskan bahwa pembagian jalur pendidikan untuk menanamkan pendidikan
agama kepada remaja yaitu:
a.
dalam rumah tangga
b. dalam sekolah
c. dalam pondok pesantren.
a. Usaha
preventif
Delinken
itu ‘’ sukar disembuhkan’’. Mereka tidak ingin diubah. Baginya tak ada cara hidup
yang lebih memuaskan. Kasih saying, pendidikan pengajaran ataupun pemberian
pekerjaan tidak dapat menolongnya. Yang diinginkan hanyalah jangan tertangkap
basa jika ia sedang beraksi, karena usaha penyembuhan boleh dikata tidak
mampan, maka usaha lain yang dilakukan adalah preventif (pencegahan). Untuk
kepeluan ini perlu dilakukan pencatata anak-anak yang merupakan calon delinken.
Usaha untuk mengandung bahaya. Calon delinquent adalah memang anak-anak yang
umumnya mengalami rejection. Jika ia kemudian, karena usaha penelitian dengan
tes atau cara lain, dicap dengan calon delinquent, maka ia mengalami libih
banyak perasaan ditolak, dan kemudian besar ia benar-benar menjadi delinken.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
1. Karena
pengaruh lingkungan, maka preventif dilakukan, dengan merombak atau merubah
lingkungan, merubah tempat-tempat bermain, gelanggang remaja dan lain-lain.
Perubahan ini perlu, tetapi diragukan apakah ini dapat mecegah delinkensi.
2. Selain
perubahan lingkungan, harus ada perubahan suasana emosional, baik dirumah
maupun disekolah. Sedah terbukti bahwa orang tua yang menyelenggarkan
kegiatan-kegiatan bersama yang sifatnya konstruktif dan menyenangkan seluruh
keluarga pada waktu-waktu tertentu misalnya seminggu sekali, maka dalam
keluarga itu boleh dikata tidak terjalin delinken. Dalam kegiatan ini muncul
yang paling penting adalah bahwa setiap anggota mendapat peranan itu untuk
menjadi suatu tujuan yang berarti.
3. Cara
lain yang dapat diusahakan adalah : a. member kegiatan dengan mana anak
berhasil melakukanya, b. member pengalaman yang menyababkan anak merasa
diterima (tidak rejet), c. menyediakan kemungkinan (cara-cara) yang pantas
untuk melampiaskan dorongan-dorongan
emosionalnya.
4. Beberapa
saran bagi guru: a. menyediakan beberapa pengalaman bagi anak untuk melakukan
pekerjaan tangan, kesenian music, sport yang berbeda tingkat kesukaranya,
sehingga anak dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan yang memungkinkan dia
mencapai kesuksesan, b. memahami kemampuan anak, menolong anak memahami
kemampuan sendiri, dan mengembangkanya; c. memahami keterbatasan-keterbatasan
anak, d. menolong anak memperoleh keterampilan dan pengetahuan tanpa mengalami
kegagalan, e. membimbing kelas, sehinga setiap murid memperoleh kepuasan dan mendapat
sukses dalam hubungan antara murid, f. memberikan kesempatan untuk mewujudkan
respon-respon emosional yang pasif dan tidak perlu gusar, bahkan tak perlu
menanggapi , bila dalam hal-hal yang kurang penting anak menunjukan respon yang
tidak pantas, g. jika dalam kelas terjadi tingkah laku yang delinken, jangan
marah hadapilah dengan objektif dan pengertian. Cobalah menempatkan diri pada
kedudukan/status anak, cobalah memahami pandangan anak, h. lakukan hal-hal yang
memungkinkan dapat merubah kondisi atau suasana dirumah. Sekolah ataupun
masyarakat yang merupakan persemaian bagi bibit-bibit delinkensi, i. berusahala
menyukai delikensi, sekalipun ia amat menjengkelkan.
b. Upaya
represif
Terhadap
remaja yang telah melakukan kenakalan perlu dilakukan pengusutan, pemahaman,
penuntutan dan hukuman guna menjamin rasa aman pada masyarakat dan remaja yang
nakal itu sendiri. Berikut menurut kartono tindakan kreatif bagi usaha
penyembuhan delinkuen antara lain:
1. Menghilangkan
sebab musabah tumbuhnya kenakalan remaja baik pribadi, family, social, ekonomi
dan cultural
2. Melukakan
perubahan lingkungan
3. Memindahkan
anak-anak nakal di sekolah yang lebih baik atau ditengah lingkungan.
4. Memberikan
latihan bagi para remaja untuk hidup
teratur, tertip dan disiplin.
5. Memanfaatkan
eaktu saenggang dengan baik
6. Menggiatkan
organisasi pemuda
7. Mendirikan
klinik psikologis. (kartono. 1986:97-98)
Disamping usaha-usaha secara preventif
dan represif perlu pula adanya penyuluhan kesadarab hukum bagi anak remaja, hal
ini dimaksudkan untuk mendidik anak/remaja tersebut hingga memerlukan
pengertian hukum, kemudian mereka menghargai dan akhirnya mereka mampu mematuhi
dengan sebaik-baiknya. System hokum yang harus diketahui , dihayati dipatuhi
oleh anak remaja tidak hanya terbatas oleh hukum tertulis, akan tetapi lebih
luas didalam mencakup hokum adat dan norma-norma yang tumbuh dan berkembang di
dalam masyarakat (sudarsono, 1990:94).
Sejalan
dengan itu , menurut kartono (1989) bahwa usaha-usaha menanggulangi kenakalan
remaja dapat ditempuh melalui usaha preventif, yaitu mengadakan pencegahan dan peningkatan
kesejahteraan keluarga, perbaikan lingkungan yaitu daerah kumuh,
kampong-kampung miskin, mendirikan klinik bimbingan, menyediakan tempat
rekreasi yang sehat, membentu badan kesejahteraan anak, mengadakan lembaga
reformatif, mengadakan latihan untuk menyalurkan kreatifitas pada remaja dan
menyusun undang-undang khusus untu pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan.
Sedangkan tindakan hokum yang dilakukan adalah berupa penghukuman sesuai dengan
perbuatanya.
Sehubungan
dengan upaya penanggulangan tersebut diatas, maka layanan-layanan yang tekait
dengan hal tersebut adalah :
1. Layanan
informasi
Layanan informasi adalah layanan
bimbingan konseling yang memungkinkan peserta didik atau klien menerima dan memahami
berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang
dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk
kepentingan peserta didik atau klien.
2. Bimbingan
belajar
Bimbingan belajar adalah salah satu bentuk
layanan bimbingan yang penting untuk diselenggarakan di sekolah. Pengalaman
menunjukan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami oleh siswa dalam belajat
tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi. Kegagalan
siswa boleh terjadi karena tidak mendapat layanan bimbingan yang baik atau yang
memadai.
Layananbimbingan dilaksanakan
melalui tahap:
a. Pengenalan
siswa yang mengalami masalah belajar,
b. Pengungkapan
sebab-sebab munculnya masalah belajar
c. Pemberian
bantuan
3. Layanan
konseling perorangan
Pada bagian ini konseling dimaksud
sebagai hubungan langsung tatap muka antara konselor atau klien. Dalam hal ini
masalah klien dicermati dan upayakan pengentasanya, dalam kaitan itu, konselor
dianggap sebagai uapaya layanan yang paling utama dalam pelaksanaan fungsi
pengentasan masalah klien. Bahwa dikatakan bahwa konselor merupakan ‘’jantung
hati’’ pelayanan bimbingan secara menyeluruh. Hal ini berarti bahwa apabila
konselor telah memberikan saranya, maka masalah klien akan teratasi secara
efektif dan upaya-upaya bimbingan lainya tinggal mengikuti atau berperan
sebagai pendamping.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah bersifat deskriptif yaitu menggambarkan factor-faktor
yang mempengaruhi kenakalan remaja dan usaha mengatasinya pada siswa SMP Negeri
satu atap 1 kabawo.
B.
Tempat
dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilaksanakan di SMP Negeri satu atap 1 kabawo pada waktu bulan November
2012.
C.
Variabel
penelitian
Variable
dalam penelitian ini adalah factor-faktor penyebab kenakalan remaja dan upaya
penanggulanganya pada SMP Negeri satu atap 1kabawo.
D.
Populasi
dan sampel
Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri satu atap 1 kabawoyang
berjumlah 270 siswa dan 20 orang dewan guru. Namun dari catatan sekolah jumlah
siswa yang termaksud dalam kategori nakal sebanyak 42 orang siswa. Dalam
penelitian ini yang menjadi populasi adalah 42 orang siswa dan 6 orang guru.
Berhubung jumlah populasi sangat terbatas maka keseluruhan anggota populasi
ditetapkan sebagai sampel.
No
|
Kelas
|
jumlah
|
||||||||
I
|
II
|
III
|
||||||||
1A
|
1B
|
1C
|
11A
|
11B
|
11C
|
IPA 1
|
IPS 1
|
IPS 2
|
||
1.
|
1
|
3
|
4
|
-
|
5
|
10
|
-
|
7
|
12
|
42
|
8
|
15
|
19
|
42
|
|||||||
E.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari dua yaitu:
1. Kuesioner
digunakan untuk mengumpulkan data tentang factor-faktor penyebab kenakalan
remaja dan usaha mengatasinya.
2. Wawancara
(interview) adalah untuk melengkapi data dari angket tentang factor-faktor
penyebab kenakalan remaja dengan mengadakan langsung wawancara kepada kepala
sekolah, wa;o kelas dan guru.
F.
Teknik
Analisis Data
Tenik
analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif
kualitatif. Data lapangan diolah dan dipersentasekan dalam bentuk table
kemudian dideskripsikan secara kulitatif untuk memperoleh gambaran umum
penyebab kenakalan remaja dan upaya penangulanganya sebagaimana dengan tujuan
dalam penelitian ini
DAFTAR
PUSTAKA
Bonger
, WA. 1970. Pengantar Tentang Kriminologi
(terjemahan RA koesnoen). Jakarta : PT.
pembangunan
De
Clerq, linda. 1994. Tingkah Laku Abnormal
dan Sudut Pengembanganya. Jakarta : PT.
grasindo
Gunarsah,
singgih dan yulia singgih. 1995. Psikologi
Praktis : anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta : gunung mulia.
Hurlock,
Elizabeth, B. 1980. Psikologi
Perkembangan. Jakarta : erlangga/
Hermawan, Rahman. 1992. Penyalahgunaan Narkotika Oleh Para Remaja; Suatu Pendekatan Terhadap
Masalah dan Usaha-Usaha Penanggulanganya. Bandung : eresco.
Kartono
kartini. 1986. Patologi Social; Kenakalan
Remaja. Jakarta : rajawali
……………….
1991. Bimbingan Bagi Anak dan Remaja yang
Bermasalah. Jakarta : rajawali.
Pohan,
imam, M. 1986. Masalah Anak dan Anak Bermasalah.
Jakarta : midas surya Gravindo CV Intermedia.
Samil,
Ali, H. 2000. Panduan Praktis Bagi Orang
Tua; Mendampingi Remaja Meraih Sukses. Jakarta : pustaka popular obor.
Sastrawijaya,
safiyudin. 1977. Beberapa Masalah Tentang
Kenakalan Remaja. Bandung : PT Karya Nusantara.
Singgih,
yulia D. 1995. Psikologi Anak Bermasalah.
Jakarta : PT. BPK Gunung Mulia.
Sumajuntak,
B. 1984. Latar Belakang Kenakalan Remaja.
Bandung : alumni.
Sudarsono.
1990. Kenakalan Remaja, Prevalensi,
Rehabilitasi dan Resosialisasi. Jakarta : Rineka Cipta.
Syamsu
Yusuf, LN. 2001. Psokologi Perkembangan
Anak dan Remaja. Bandung : PT remaja Rosdakarya.
Langganan:
Postingan (Atom)
